Tanpa kategori

Tidak Ada Malam yang Lebih Kelam dari Hari Ini

Adakah yang lebih puitis dari bangun di tengah malam untuk membuang dosa? Kujawab, ada dan banyak. Tapi tak sebanyak manusia digital yang mampu membuang ponselnya ke hutan dan memilih tinggal di dalam gua. Adakah malam yang lebih kelam dari hari ini? Kali ini aku tak tahu harus berkata apa. Aku belum sanggup menengok masa depan.… Lanjutkan membaca Tidak Ada Malam yang Lebih Kelam dari Hari Ini

Iklan
Tanpa kategori

Monster dan Masa Lalu

Aku ingin kemarahanku menjadi api yang membakar semangatku. Bukan melukai orang lain, bukan pula menghanguskan rumah. Ada sesosok monster di tubuhku yang selalu lepas kendali ketika amarah itu meninggi. Aku takkan pernah bisa membunuhnya. Tapi aku tahu, aku dapat menjinakkannya. Jika ditangani dengan benar, dia tidak akan bikin onar. Dia akan memancarkan sinar yang mampu… Lanjutkan membaca Monster dan Masa Lalu

Tanpa kategori

Medusa

Medusa, dari sekian banyak hewan, selain kecoa aku juga membenci ular. Aku tak pernah bisa menyembuhkan dongeng tentang iblis yang telah menular. Tapi bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadamu, Medusa? Tubuhmu setengah ular, rambutmu pun tercipta dari untaian makhluk bersisik itu. Apakah ini artinya aku masih peduli dengan wujud? Mungkin, sangat mungkin, aku mengagumi dengan… Lanjutkan membaca Medusa

Tanpa kategori

Kemurungan Fiksi

Fiksi membuatku hidup di dalam banyak dunia. Aku bisa menjadi siapa pun, termasuk engkau, tapi selalu gagal menemukan diri sendiri. Aku mendalami dirimu dengan sempurna, sampai-sampai lupa bahwa aku telah kehilangan tubuh. Pikiran begitu bebas dan liar. Meskipun sebenarnya aku terkurung di selembar dokumen, sebuah neraka yang kurancang sendiri untuk menghukum sisi jahat lainnya.

Tanpa kategori

Katalis

Rendam dan dinginkan kepalamu di kolam berwarna langit itu, Sayangku. Jangan kau sunggi lagi nerakanya. Kau manusia, bukan malaikat, iblis, atau Tuhan. Kasihan gagasanmu yang suci itu kalau terus-menerus terbakar oleh dosa, lalu berjatuhan. Menyisakan abu. Tertiup angin. Kehilangan ingin. Tak ada arti. Apa kini apinya telah padam? Jika sudah, kumpulkan energi-energi baru. Santai saja,… Lanjutkan membaca Katalis

Tanpa kategori

Lima Fragmen Penghancur Diri Sendiri

/1/ Dunia ideal yang aku inginkan adalah kebakaran di gedung bertingkat 50. Sedangkan hidup yang kujalani malah berbentuk segayung air--yang dengan polosnya berusaha memadamkan api itu. /2/ Puisi yang bagus konon berwujud senja di dalam secangkir kopi. Aku lebih suka es teh dengan segenggam gula dan sejumput gila. Lebih buruk mana, insomnia atau tulisanku? Lebih… Lanjutkan membaca Lima Fragmen Penghancur Diri Sendiri

Tanpa kategori

Menemukan Judul untuk Tulisan Ini Lebih Sulit daripada Melupakanmu

Niat dari hari Sabtu: bikin tiga tulisan; satu esai buat dikirim ke media, satu cerpen buat menyicil proyek yang digarap, satu ulasan atau cerita keseharian untuk lomba. Pokoknya semuanya sudah selesai sebelum tanggal 20 Desember. Lalu, yang akhirnya terjadi sekarang: tiga-tiganya enggak ada yang kelar. Esai cuma mentok di poin-poin, cerpen baru setengah jalan, dan… Lanjutkan membaca Menemukan Judul untuk Tulisan Ini Lebih Sulit daripada Melupakanmu