Puisi

Warna Puisi

Puisi yang terbuat dari rasa kantukmu selalu bernuansa gelap. Tidakkah kau berpikir untuk tidur sejenak, nanti ketika sudah nyenyak dan terbangun dengan sendirinya, barulah kau mulai melukis kata menggunakan palet yang telah dibaluri cat berwarna biru langit atau kuning telur atau merah muda. Tapi atas nama kebebasan, kau berhak memilih warnamu sendiri. Jika suram telah… Lanjutkan membaca Warna Puisi

Iklan
Puisi

Argumentasi Kesedihan, Eksposisi Kebahagiaan

Persetan dengan Bahagia yang selalu menjadi tujuan hidup umat manusia. Kesedihan juga butuh tempat bernaung. Kau selalu menggali kembali gagasan itu setiap kali dirimu mencoba tersenyum, padahal sebenarnya kau sama sekali tidak merasakan gembira. Mungkin kau pendusta kelas berat. Mungkin pula kau hanya gemar menyembunyikan sisi suram itu. Tapi kau cuma ingin terlihat normal sebagaimana… Lanjutkan membaca Argumentasi Kesedihan, Eksposisi Kebahagiaan

Puisi

Disforia Pengusik Kenangan

Mengapa wajah-wajah penyesalan terkadang kembali hadir ketika lupa telah selesai menyapu bersih lantai kenangan? Sudahkah dia benar-benar melaksanakan tugasnya? Aku tak punya bukti apa-apa selain harus menebak-nebak ini semua kesalahan siapa. Apakah ini salah ingatan yang terlalu kejam dan sanggup mengembalikan segala noda yang terhapus itu? Atau ini kesalahan mimpi yang ceroboh dan justru lalai… Lanjutkan membaca Disforia Pengusik Kenangan

Puisi

Mendengarkan Mono

Kau kembali gagal tidur karena kepala masih berputar mengelilingi bulan. Guling telah kaupeluk, tapi tidak ada kehangatan yang dapat mengobati dinginnya kesepian. Adakah api yang bisa membakarmu hingga menjadi abu? Apakah "tetapi" masih bisa menghapus hal-hal tabu?   Kelelawar mulai beterbangan dan hinggap di pohon jambu. Kelakar berhamburan dan minggat tanpa menyalakan rambu.   Butuh… Lanjutkan membaca Mendengarkan Mono

Puisi

Sayang, Aku Terlalu Pengecut untuk Mengenalmu

Seandainya aku dapat meluncur bebas ke suatu hari di masa lalu, aku mungkin akan memilih waktu di mana mata kita saling menatap (secara tidak sengaja, tentu saja). Lalu, jika hari itu kembali lagi dan aku berhasil membuang ketakutanku, akankah aku bisa betul-betul menetap? Kini, aku mulai memasuki ruang hampa. Di dalamnya, aku bisa puas mengutuk… Lanjutkan membaca Sayang, Aku Terlalu Pengecut untuk Mengenalmu