Ocehan

Pagi yang Berengsek

"Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa." --SDD, Pada Suatu Pagi. Hari ini, pukul sembilan pagi, aku ingin menjadi "ia" di dalam sajak… Lanjutkan membaca Pagi yang Berengsek

Iklan
Ocehan

Sesuatu di akbaryoga

Aku mengirimkan lima emoji tawa yang keluar air mata seusai membaca pesan dari Lisa. Aku lalu menambahkan, "Mau nyuruh aku balik ngeblog aja repot-repot amat." Sebelumnya, Lisa dengan seenak jidat mengubah lirik Adhitia Sofyan, Sesuatu di Jogja, menjadi begini: Sudah saatnya kau tengok blog yang tertinggal. Sampai kapan akan ada tulisan baru? Hingga kini masih… Lanjutkan membaca Sesuatu di akbaryoga

Puisi

Warna Puisi

Puisi yang terbuat dari rasa kantukmu selalu bernuansa gelap. Tidakkah kau berpikir untuk tidur sejenak, nanti ketika sudah nyenyak dan terbangun dengan sendirinya, barulah kau mulai melukis kata menggunakan palet yang telah dibaluri cat berwarna biru langit atau kuning telur atau merah muda. Tapi atas nama kebebasan, kau berhak memilih warnamu sendiri. Jika suram telah… Lanjutkan membaca Warna Puisi

Puisi

Argumentasi Kesedihan, Eksposisi Kebahagiaan

Persetan dengan Bahagia yang selalu menjadi tujuan hidup umat manusia. Kesedihan juga butuh tempat bernaung. Kau selalu menggali kembali gagasan itu setiap kali dirimu mencoba tersenyum, padahal sebenarnya kau sama sekali tidak merasakan gembira. Mungkin kau pendusta kelas berat. Mungkin pula kau hanya gemar menyembunyikan sisi suram itu. Tapi kau cuma ingin terlihat normal sebagaimana… Lanjutkan membaca Argumentasi Kesedihan, Eksposisi Kebahagiaan

Pemberitahuan

Mencentang Satu Impian

Sudah ada lima cerpen saya yang termuat di Loop: https://www.loop.co.id/cerpen Jika mengikuti kesepakatan awal, berarti tinggal satu cerpen lagi. Saya mendadak penasaran, cerpen manakah yang akan terbit berikutnya? Di antara lima itu, ada satu tulisan yang sebetulnya tidak saya maksudkan untuk dikirim, tetapi saya tak punya pilihan lain karena keterbatasan waktu. Mau bagaimana lagi, tenggat… Lanjutkan membaca Mencentang Satu Impian

Ocehan

Deprivasi Tidur

Seumpama kipas angin di rumahmu, kesepian seperti tombol nomor tiga yang mendatangkan hawa paling dingin. Seumpama guling, pertanyaan-pertanyaan soal hidup adalah suatu hal yang gemar kaupeluk, tapi tidak juga menawarkan kehangatan. Satu-satunya alasan matamu sulit terpejam: selalu ada dia di sana. Kau lelah terus-terusan bermimpi tentangnya. Jadi, adakah pilihan yang lebih baik selain menghancurkan diri… Lanjutkan membaca Deprivasi Tidur