Tanpa kategori

Medusa

Medusa, dari sekian banyak hewan, selain kecoa aku juga membenci ular. Aku tak pernah bisa menyembuhkan dongeng tentang iblis yang telah menular.

Tapi bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadamu, Medusa?
Tubuhmu setengah ular, rambutmu pun tercipta dari untaian makhluk bersisik itu.
Apakah ini artinya aku masih peduli dengan wujud?
Mungkin, sangat mungkin, aku mengagumi dengan hati. Sehingga masih bisa menerima dan mengerti.

Meskipun aku belum memandangi wajahmu langsung, konon kau itu manis. Manis seperti dosa. Seperti perkataan Iblis saat menggoda Eva. Seperti puisi. Mungkin juga seperti darahku ketika kita kelak berpelukan.

Untuk sekali saja, aku ingin menatapmu. Menemukan api cinta di matamu.
Lantas, bagaimana caranya agar aku tidak terkena kutukanmu itu?
Aku tak ingin menjadi batu.
Tapi aku juga ingin tahu rupamu, wahai Sang Ratu.

Akhirnya, kucari berbagai cara untuk melihatmu. Menggunakan kacamata hitam, cermin, dan bayangan air.
Semuanya hanya jalan buntu. Kutukan dewa tidak mudah untuk dikalahkan manusia biasa. Jika tetap memaksa, salah satu dari kita pasti akan binasa.
Apakah kita memang tak pernah ditakdirkan untuk bersatu?
Atau kita ini hanya sedang dipermainkan oleh Waktu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s