Cerita

Sampah yang Mungkin Berguna

Idk why i let people treat me like shit.

Adakalanya aku mengalami hal buruk sebagaimana yang tertulis di kalimat itu. Tapi, aku betul-betul bingung kenapa malah telat sadar. Sekalipun nanti aku sudah tahu, bodohnya masih tetap membiarkan mereka melakukan hal yang semena-mena terhadapku.

Misalnya, sewaktu bekerja lepas di suatu media, aku berulang kali menuruti seorang senior—yang telah bekerja dua tahun lebih dulu daripada aku. Aku mengerjakan tugas merekap hasil brainstorming seorang diri. Pada awal-awal bekerja, katanya hal itu sengaja dia lakukan agar aku bisa sekalian mempelajari pekerjaan tersebut. Aku memakluminya.

Aku sangat senang pada bulan kedua mendapatkan rekan baru. Senior itu akhirnya membagi tugas kepada kami berdua. Sayangnya, baru dua minggu bekerja orang baru ini bilang tidak kuat dan mengundurkan diri. Aku lagi-lagi mesti sendirian.

Memasuki bulan ketiga aku bekerja, senior ini mengadu kepada teman yang merekomendasikanku di situ, katanya aku pasif dalam bekerja. Aku memilih diam. Sejujurnya, aku sadar diri dan termasuk pasif saat brainstorming. Lagi pula, senior itu bilang tugasku hanya mencatat ide-ide yang keluar dari mulut para karyawan beserta dirinya. Aku bagian perbantuan. Bukan tim inti. Memang, aku boleh juga menyumbang ide. Tapi yang sudah-sudah, ideku jarang mendapatkan sambutan. Mungkin selera kami berbeda. Atau aku terlalu egois dalam persoalan selera. Selama bekerja di sana, cuma ada 3 atau 4 ideku yang berhasil tembus dan mendapatkan upah. Beberapa kali ide-ideku hanya sebagai cadangan, sehingga aku tidak mendapatkan bayaran atas apa yang sudah kukerjakan. Begini amat nasib anak baru.

Kembali ke soal pasif, setiap kali brainstorming aku memang agak kesulitan menemukan gagasan segar sembari merekap celetukan ide-ide mereka. Jika aku tetap memaksakan mencari ide sambil mengetik, bisa-bisa malah kehilangan fokus dan gagal mencatat. Menurut tes yang dilakukan di HSE Neurolinguistics Laboratory, Moskow, multitasking memang tak mudah bagi laki-laki, sebab otak mereka lebih banyak mengeluarkan energi ketimbang perempuan. Soal penelitian itu akurat atau tidak, aku enggak peduli. Yang jelas aku memang susah multitasking. Menggoreng makanan di dua kompor yang bersebelahan saja, beberapa kali kompor satunya terlupakan olehku dan hampir gosong. Aku entah kenapa cuma bisa fokus ke satu penggorengan.

Kala aku sudah tidak bekerja di situ lagi, aku baru bilang keadaan sebenarnya kepada temanku. Aku kerap tidak tidur pada malam hari demi bisa mengirimkan salinan draf sinopsis yang telah aku perbaiki dengan tepat  waktu kepada para tim—yang kelak mereka jadikan naskah utuh. Tenggat yang mereka berikan mepet sekali. Sebanyak-banyaknya waktu cuma 12 jam. Pulang kerja pukul delapan malam, pukul delapan pagi aku sudah mesti setor. Gila juga kalau diingat-ingat.

Aku mengirimkannya lewat senior ini terlebih dahulu agar bisa dia periksa lagi. Begitulah yang dia suruh kepadaku. Ketika kulihat hasilnya, nyaris tidak ada yang berubah ketika draf itu sampai ke surel para tim. Itu sama saja pekerjaanku sudah baik. Namun, yang mendapatkan pujian tentu saja senior itu. Aku sudah kadung dinilai kerjaannya pasif. Apa boleh buat.

Aku hanya heran kenapa dia tega berbuat seperti itu kepadaku. Beberapa kali aku bersedia menolong senior mengerjakan tugasnya, padahal jelas-jelas itu di luar pekerjaanku. Waktu telah lama berlalu, tapi perasaan marah karena diperlakukan seperti sampah belum juga hilang. Anjing, mengingat hal itu lagi bisa-bisa akan merusak hariku.

Tapi aku bersyukur tidak mengambil tawaran berikutnya dan memutuskan berhenti demi kesehatan tubuh maupun jiwa. Toh, upahnya juga tidak sepadan. Buat apa bertahan?

Akibat diperlakukan seperti sampah, aku malah membuat draf mentah cerita fiksi yang tidak kalah sampahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s