Tanpa kategori

Lima Fragmen Penghancur Diri Sendiri

/1/

Dunia ideal yang aku inginkan adalah kebakaran di gedung bertingkat 50. Sedangkan hidup yang kujalani malah berbentuk segayung air–yang dengan polosnya berusaha memadamkan api itu.

/2/

Puisi yang bagus konon berwujud senja di dalam secangkir kopi. Aku lebih suka es teh dengan segenggam gula dan sejumput gila. Lebih buruk mana, insomnia atau tulisanku? Lebih bodoh siapa, aku gagal saat ujian atau kau yang memalsukan pujian?

/3/

Kesembuhan mungkin awalnya cuma rasa gatal yang tak boleh digaruk. Kata dokter, minum sampai habis antibiotiknya. Tapi aku manusia yang membenci rumah sakit. Aku memilih tidur di pangkuan ibuku, sebab mati di mana saja akan sama. Apalagi keadaan setelahnya, Shakespeare bilang hanyalah sunyi.

/4/

Untuk terakhir kalinya aku mau menciptakan bunyi. Kau boleh membantuku memainkan melodinya. Pilih salah satu; menyanyikan kesepian, menggenjrang-genjreng kesedihan, membetot luka, atau menabuh kebohongan.

/5/

Tak akan ada yang menangis ketika mendengarkannya. Irama itu sejatinya cuma delusi yang diraut oleh sesosok anomali. Kau tidak akan pernah bisa pulang. Tak ada tempat untuk kembali. Satu-satunya rumah adalah dendam. Jadi tunggu apa lagi? Langsung saja hancurkan aku dengan palu godam.

/Januari 2019

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s