Mendengar Suara Minoritas

“Boleh enggak, sih, Mas, kalau dibatalin aja? Atau dikasih ke yang lain, gitu? Kami lagi pada enggak punya duit. Pusing buat bayar ini-itu,” ujar seorang tetangga ketika saya bermaksud menagih pembayaran kemeja—seragam organisasi sosial di lingkungan kami. Terus terang, saat saya membaca pesan itu hati rasanya langsung remuk, sebab saya paham banget rasanya enggak punya … Lanjutkan membaca Mendengar Suara Minoritas

Di Masa Sulit Ini, Saya Ingin Mengenang Kebaikan Seorang Guru

Suatu hari saya tak sengaja membaca keributan di Twitter tentang orang-orang yang memilih tidak mau punya anak, bahkan memilih tidak menikah. Lantaran hal itu, saya jadi teringat zaman SMP—masa di mana terdapat salah seorang guru yang belum menikah hingga beliau berusia 50-an. Beliau adalah wali kelas saya pada kelas 9. Beberapa murid nakal pun sering … Lanjutkan membaca Di Masa Sulit Ini, Saya Ingin Mengenang Kebaikan Seorang Guru

Cerpen Terjemahan: Ray Bradbury, Para Pemukim

Selain buat jurnal digital, blog ini tadinya juga punya fungsi sebagai tempat latihan menerjemahkan tulisan orang lain—dan tentunya cuma dimaksudkan untuk konsumsi pribadi. Namun, ternyata ada beberapa pengunjung yang tersasar ke blog ini, lalu secara tak langsung mereka jadi membaca sekaligus menyukai terjemahan ala kadarnya itu, dan lama-kelamaan saya sedikit takut seandainya blog ini nanti … Lanjutkan membaca Cerpen Terjemahan: Ray Bradbury, Para Pemukim

Saya Masih Payah dan Saya Ingin Naik Level

Seharusnya tanggal 30 Juni kemarin saya mengikutsertakan tulisan untuk lomba berhadiah utama laptop (saya memang lagi mengincar lomba-lomba berhadiah perangkat elektronik kayak laptop dan HP biar enggak usah membelinya), tapi pada akhirnya saya batal menerbitkannya di blog dan malas menaati syarat-syarat yang ditentukan oleh pihak penyelenggara. Oke, tulisan saya sebetulnya juga belum kelar dan masih … Lanjutkan membaca Saya Masih Payah dan Saya Ingin Naik Level